Senin, 07 Januari 2013

Feline Enteric Coronavirus ( FEC ) atau infeksi corona virus pada kucing


Feline Enteric Coronavirus (FEC) adalah penyakit serius yang hampir selalu berakibat kematian bagi kucing.

1. Etiologi dan Patogenesa
Penyakit ini disebabkan oleh coronavirus (feline corona virus/FcoV), yaitu sejenis keluarga virus yang juga menyerang anjing, babi dan beberapa spesies virus ini dapat menyerang manusia. Tetapi virus yang menyebabkan FIP pada kucing, tidak dapat menyerang manusia. Adapun penyakit ini bersifat:
·         Penyakit ini terjangkit secara sporaradik yang hampir ditemukan di seluruh dunia.
·         Infeksi penyakit ini juga terjadi secara simultan dan kadang-kadang bersifat fatal.
·         Tidak terjadi viremia ataupun manifestasi penyakit sistemik lainnya.
Coronavirus yang relatif tidak berbahaya dan biasa menyerang kucing yaitu Feline Enteric Coronavirus (FECV). FECV yang bermutasi menjadi virus ganas disebut Feline Infectious Peritonitis Virus (FIPV). Bila respon kekebalan tubuh kucing kurang baik, FECV yang bermutasi jadi FIPV ini dapat menyebabkan penyakit sistemik yang disebut Feline Infectious Peritonitis (FIP).
Penyakit ini bermanifestasi dalam dua bentuk : basah  dan kering. Tipe basah menyebabkan sekitar 60-70% dari keseluruhan kasus penyakit ini dan lebih ganas dari tipe kering. Bentuk penyakit yang muncul sangat tergantung pada reaksi kekebalan tubuh kucing. Bila kekebalan tubuh bereaksi cepat biasanya yang muncul adalah tipe kering. Sebaliknya bila kekebalan tubuh lambat bereaksi, maka tipe basah yang muncul.
Bila respon kekebalan tubuh cukup kuat, gejala penyakit bisa tidak muncul tetapi kucing dapat menjadi carrier dan dapat menularkan virus selama beberapa tahun hingga kekebalan tubuhnya berkurang sedikit demi sedikit. Seiring dengan berkurangnya kekebalan, penyakit akan semakin berkembang hingga timbul gejala sakit dan akhirnya menyebabkan kematian.
Ada dua strain virus penyebab penyakit ini, yaitu FcoV –1 dan FcoV-2, sekitar 85 % penyakit FIP disebabkan oleh strain pertama. Kejadian penyakit FIP sekitar 1 % dari total kucing  sakit yang dibawa ke dokter hewan untuk diobati.
Penyakit ini biasa menyerang kucing, terutama kucing-kucing cattery penampungan hewan, dimana terdapat sejumlah besar kucing dewasa & anakan hidup bersama. Diperkirakan sekitar 10-20 % kucing pada tempat-tempat yang positif mengandung FECV, terinfeksi FIP.  Sekitar 2 %  kasus penyakit terjadi pada pemeliharaan  kucing kurang dari tiga ekor.
Kucing sehat tertular melalui kontak langsung dengan kucing yang terinfeksi atau kotorannya (feces). Kucing yang terinfeksi menyebarkan virus melalui liur dan feces. Penularan terutama terjadi melalui kontak feces dengan mulut, lainnya melalui liur atau lendir saluran pernafasan.
Virus FIP dapat bertahan hidup selama 2 – 3 minggu dengan suhu ruangan pada permukaan kering, termasuk pada peralatan makan kucing, mainan, kotak kotoran (litter), tempat tidur (bedding), pakaian kucing (clothing) atau rambut kucing. Induk yang carrier dapat menularkan virus ke anaknya.
Menurut para ahli, kucing jarang tertular virus FIP secara langsung. Sebagian besar penyakit FIP yang terjadi diduga berasal dari mutasi FECV yang memang banyak terdapat pada pencernaan kucing dan relatif tidak berbahaya.

2.Gejala Klinis
Sebagian besar kucing yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala yang nyata, tetapi sebenarnya virus tetap berkembang di dalam tubuh. Setelah kontak, virus mulai berkembang di tenggorokan dan usus halus kucing. Kemudian pindah ke paru-paru, perut dan menyebar diseluruh usus. Sekitar 1 – 10 hari kemudian virus sudah dapat ditularkan ke kucing lain.
Selama infeksi ini, gejala yang muncul bisa berupa bersin-bersin, mata berair, lendir hidung yang berlebihan, diare, berat badan berkurang, lemah & lesu. Gejala yang muncul bisa juga non spesifik seperti : hilang nafsu makan, depresi, rambut kasar dan demam.
Pada bentuk basah terjadi akumulasi cairan di rongga perut dan rongga dada, menyebabkan menyebabkan pembengkakan daerah perut (biasanya tanpa rasa sakit) disertai kesulitan bernafas.
Pada bentuk kering, cairan yang menumpuk relatif sedikit dan gejala yang muncul tergantung organ yang terinfeksi virus. Sekitar setengah dari kasus bentuk kering, menunjukkan gejala radang mata atau gangguan syaraf seperti : lumpuh, cara berjalan yang tidak stabil dan kejang-kejang. Gejala lainnya bisa berupa gagal ginjal atau pembengkakan hati, depresi, anemia, berat badan berkurang drastis, gangguan pankreas dan sering disertai demam. Gejala lain berupa muntah, diare & icterus (warna kekuningan pada kulit dan selaput lendir).
Anjing liar dan anjing domestik besar kemungkinannya untuk terserang penyakit ini, selain itu pentakit ini juga menyebabkan infeksi tidak nyata pada kucing dimana dapat menyerang semua jenis hanjing dengan semua tingkatan umur.
Gejala klinis yang dapat diamati antara lain:
·         Pada dewasa sebagian besar infeksi tidak kelihatan.
·         Pada anak anjing mengarah ke kasus enteritis fatal.
·         Masa inkubasi 1-3 hari.
·         Muntah secara tiba-tiba
·         Diare dan kehilangan cairan bisa terjadi beberapa hari hingga berminggu-minggu.
·         Anorexia dan depresi.
·         Kadang-kadang demam
·         Gangguan pernapasan.

3. Diagnosa
Prosedur diagnosa:
  • Isolasi virus dari feses yang kemudian ditanam pada kultur sel.
  • Test immunofluorescent dari potongan- potongan usus halus, pada kasus fatal kadang-kadang ditemukan antigen pada bagian epitel usus halus.
  • Gambaran mikroskopis dengan menggunakan mikroskop electron.
  • Ditemukan nekropsi pada infeksi eksperimental
  • Kadang-kadang terjadi dilatasi usus halus yang berisi gas dan material hijau kekuning-kuningan yang encer.
  • Ditemukannya kongesti atau hemoragi yang disertai dengan pengecilan mesenterikal limponodus dan udema.
  • Atropi dan penggabunagn fili-fili usus terutama pada bagian kripta, meningkatnya lapisan sel lamina propria serta perataan pada epitel sel yang diikuti oleh munculnya sel goblet.
  • Lesi sebagian besar tidak jelas terutama pada pemeriksaan dengan autolisis postmortem
Differensial Diagnosa:
  • Penyakit yang disebabkan virus, bakteri dan protozoa penyebab diare.
  • Keracunan makanan.
Test yang dilakukan terhadap sampel penyakit ini antara lain:
    1. Test Serologis
    2. Titer Antibodi, biasanya pada kasus penyakit ini titer antibodi yang dihasilkan tubuh rendah tetapi tidak selalu mengindikasikan terhadap penyakit ini karena infeksi penyakit ini bersifat asymptomatis.
4. Pengobatan
Sebagian besar anjing yang terinfeksi sembuh tanpa pengobatan.Sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan penyakit ini. Pengobatan yang ada masih berupa pengobatan suportif untuk mengurangi gejala dan mengurangi rasa sakit kucing dengan memberikan cairan supportif atau infus serta caiaran elektrolit guna menggantikan cairan tubuh yang hilang . Kucing yang sakit dapat bertahan hidup 1 minggu – 1 tahun tergantung kekebalan tubuh dan keparahan penyakit.
Dalam pengobatan antibiotik tidak terlalu dianjurkan kecuali pada kasus yag diikuti dengan enteritis, sepsis ataupun gangguan respirasi.
Pencegahan bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang & peralatan, dicuci dengan sabun, deterjen atau desinfektan. Bahan yang murah meriah & cukup efektif adalah larutan kaporit/pemutih + 3 %. Jaga kesehatan kucing dengan pemberian nutrisi yang cukup dan baik.
Vaksin FIP pertama digunakan tahun 1991 di USA. Sampai saat ini efektivitas vaksin masih diperdebatkan. Sampai saat ini Vaksin FIP belum tersedia Di Indonesia. Isolasi dan sanitasi pada lingkungan kandang. Penyakit ini menyebar dengan sangat cepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar